Belajar Mendengarkan Adalah Pelayanan Tingkat Tertinggi

Hampir setiap waktu kita berhadapan dengan orang, duduk berdua atau rombongan dalam satu tempat. Salah satu dari kita pasti ada yang tengah berbicara, mengeluarkan pendapat, argumen atau bahkan sekadar ingin menceritakan apa yang sudah dialami. Sementara yang lain akan diam mendengarkan.

Apakah Kita Benar-Benar Mendengarkan?

Seringkali hanya tubuh yang memperlihatkan seolah ‘mendengarkan’ padahal mata bergerak ke sana kemari mencari obyek lain yang lebih menarik, otak melanglang buana memikirkan banyak hal, atau tangan sibuk mengetuk layar ponsel untuk melihat ada notifikasi apa di sana, meski sekilas.

Pada akhirnya, kita tidak mendengarkan dengan baik. Apalagi untuk memahami makna di dalam cerita yang disampaikan, mampu mengingat isinya setengah saja, sudah bersyukur sekali. Sebab, ada orang lain yang bahkan tidak mampu mengingat isi yang baru saja diutarakan atau berperan seakan mendengarkan, tetapi mempersiapkan lidah dan argumen untuk memotong atau mendebat.

Setiap ada teman, sahabat, saudara, atau bahkan rekan kerja bercerita, kita mungkin berpikir bahwa kita sudah mendengarkan dengan baik. Padahal belum tentu. Bagaimana Anda bisa mendengarkan jika tangan atau bahkan mata sibuk mencari obyek lain sebagai pengalihan di tengah kebosanan menyimak cerita yang tengah dibawakan?

Belajar Mendengarkan untuk Memahami

Stephen R. Covey, penulis buku The Seven Habits of Highly Effective People, mengutarakan bahwa banyak orang mendengarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk menyiapkan diri membalas ucapan lawan. Hal itu relevan dengan kehidupan sekarang.

Sering kita melihat kasus perdebatan di media sosial, entah masalah politik, bisnis, ataupun pribadi yang diusung oleh publik. Pihak yang berdebat selalu membenarkan opini masing-masing, enggan mendengarkan lawan untuk berbicara. Atau ketika ada kesempatan untuk diam sejenak dan mendengar, pikiran sudah menyiapkan kalimat untuk memotong atau melawannya. Akhirnya, perdebatan tiada ujung akan terus terjadi.

Yah, ‘mendengar‘ yang seperti itu memang mudah dilakukan oleh siapa pun. Tidak peduli seperti apa statusnya di masyarakat dan seberapa banyak kekayaannya. Namun, nyatanya, yang dibutuhkan manusia adalah ‘sebenar-benarnya mendengarkan’, dengan konsentrasi penuh menyimak, membiarkan lawan selesai bicara, memberi waktu sejenak untuk mengolah informasi yang didapat Dan memahami, serta memberi reaksi yang tepat.

Tips untuk Belajar Mendengarkan Agar Bisa Menjadi Pendengar yang Baik

Dalam Psychology Today, Caren Osten mengenalkan lima tips untuk belajar mendengarkan agar bisa menjadi pendengar yang baik.

  1. Lakukan praktik terlebih dahulu dengan orang terdekat
    Kita bisa mulai berlatih menjadi pendengar yang baik. Langkah pertama adalah ajak teman terdekat atau saudara untuk berbincang. Biarkan mereka bercerita sepuasnya dan dengarkan. Buang jauh-jauh pemikiran apa pun di kepala, usahakan untuk tetap fokus dan konsentrasi.
    Jika memungkinkan, jauhkan ponsel atau benda-benda lain yang bisa merusak konsentrasi tersebut. Lakukan itu berulang untuk melatih kemampuan mendengarkan.
    ­
  2. Berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibahas
    Seperti yang dikatakan Stephen R. Covey, banyak orang mendengarkan hanya untuk melawan argumen si pembicara. Hal itu terjadi lantaran pemikiran mereka tertutup dengan asumsi yang mereka benarkan dan ketidaksiapan menerima pendapat orang lain. Alhasil perdebatan yang terjadi atau pembicaraan kosong tanpa solusi.
    ­
    Maka dari itu, sebelum belajar mendengarkan, pastikan Anda termasuk orang yang berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibicarakan. Hindari menyela pembicaraan lawan di tengah cerita, serta belajar untuk melihat isinya dari sudut pandang lain. Bukan dari sudut Anda, tapi sudut orang lain. Bahkan bisa juga memosisikan di pihak si pembicara.
    ­
  3. Relakskan tubuh dan tatapan, bersiap untuk menyimak
    Ini bukan aktivitas mendengarkan dalam pelajaran listening bahasa asing. Jadi, jangan gugup. Santai saja. Relakskan tubuh, fokuskan tatapan pada lawan bicara. Yah, anggap saja jika Anda di sana bukan semata-mata untuk mendengarkan atau memberi nasihat, tetapi mencari tambahan ilmu dari isi pembicaraan tersebut. Nyatanya, memang banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan melalui kegiatan mendengar dalam perbincangan ringan ini.
    ­
  4. Dengarkan dengan baik dan gunakan jeda yang ada untuk memahami
    Sering kita merasa canggung ketika ada jeda dalam percakapan. Usai lawan menyelesaikan ceritanya, kita bingung untuk memberi reaksi seperti apa. Lalu, keheningan terjadi.  Hingga akhirnya buru-buru mencari topik lain untuk mengisi kesunyian itu.
    ­
    Seharusnya, biarkan saja jeda itu diisi dengan keheningan. Gunakan kekosongan tersebut untuk memahami makna dari cerita yang disampaikan. Ingat lagi semua perkataannya dan dapatkan informasi penting yang merupakan inti dari kisah yang dibawakan.
    ­
  5. Berikan pertanyaan terbuka untuk mendapat lebih banyak cerita
    ‘Oh begitu, ya.’ Reaksi tersebut pasti sering kita dapatkan usai bercerita. Atau mungkin kita yang memberikannya pada lawan bicara. Hal itu dapat terjadi ketika kita buru-buru memberi tanggapan seakan itu yang dibutuhkan si pembicara atau tidak menyimak dengan baik, sehingga tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Alih-alih memberi respons yang menunjukkan kualitas diri kita dalam menyimak, kita bisa melanjutkan perbincangan dengan memberi pertanyaan terbuka. Seperti, seperti apa rupanya? Apa yang kamu rasakan usai mengalaminya?

Pembicaraan pun akan terus berlanjut dan Anda akan mendapatkan lebih banyak lagi informasi.

Itulah mengapa belajar mendengarkan menjadi hal penting di kehidupan ini. Bukan untuk pribadi saja, tetapi juga untuk bisnis.

More Articles

Memanfaatkan Masa pandemi untuk Perbaikan Kualitas Diri

Memanfaatkan Masa pandemi untuk Perbaikan Kualitas Diri

Dunia kini tengah terguncang. Sejumlah ahli bahkan memperkirakan masa pandemi Covid-19 masih dan kemungkinan akan terus berjalan hingga akhir tahun. Sejumlah sektor ikut tumbang lantaran tidak mampu bertahan di masa krisis ini. Tidak hanya perusahaan kecil, tetapi juga perusahaan besar. Tidak hanya kalangan bawah, tetapi juga kalangan atas ikut terkena imbas. Namun, apa saja yang ... Read moreRead more

Menjadi Generalis atau Spesialis, Pilih yang Mana?

Menjadi Generalis atau Spesialis

Menjadi generalis atau spesialis? Generalis merupakan seseorang yang bisa melakukan banyak hal. Sementara itu, spesialis hanya bisa melakukan satu hal, tetapi mendalam. Kasus generalis ini serupa dengan istilah jack of all trades. Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Jack of all trades merupakan sebutan bagi mereka yang mampu melakukan berbagai macam hal tetapi tidak menguasai satu ... Read moreRead more

8 Hal yang Saya Pelajari sebagai Business Owner di Kala Krisis Melanda

8 Hal yang Saya Pelajari sebagai Business Owner di Kala Krisis Melanda

Ketika krisis COVID-19 mulai melanda di Indonesia, saya menyadari bahwa ini adalah pertanda buruk bagi banyak hal—termasuk bagi bisnis. Wabah ini merupakan sesuatu yang tak dapat dikendalikan. Seorang business owner ulung tentu sudah mempersiapkan banyak rencana cadangan, tetapi siapa yang mengira bahwa sebuah pandemi akan menciptakan pukulan telak bagi bisnis di tahun 2020? Prediksi tahun ... Read moreRead more

Leave a Comment