Dunia kini tengah terguncang. Sejumlah ahli bahkan memperkirakan masa pandemi Covid-19 masih dan kemungkinan akan terus berjalan hingga akhir tahun. Sejumlah sektor ikut tumbang lantaran tidak mampu bertahan di masa krisis ini. Tidak hanya perusahaan kecil, tetapi juga perusahaan besar. Tidak hanya kalangan bawah, tetapi juga kalangan atas ikut terkena imbas.

Namun, apa saja yang bisa Anda lakukan di tengah pandemi ini? Salah satunya adalah memperbaiki kualitas diri guna untuk menghadapi kehidupan usai wabah ini berakhir.

Nah, apa saja yang bisa dilakukan dalam meningkatkan kualitas pribadi? Di antaranya adalah:

  1. Belajar hal-hal baru
    Sudah berapa buku yang Anda baca selama satu bulan lebih berada di rumah akibat wabah Corona ini? Lebih dari sepuluh atau bahkan tidak ada satu pun?
    ­
    Di tengah imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah dan tidak keluar kecuali urusan mendesak, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk membaca buku. Buka kembali buku yang sudah lama terbeli dan masih terbungkus segel di dalam rak, kemudian pahami isinya dan praktikkan, jika memungkinkan.
    ­
    Bila memang tidak ada buku yang bisa dibaca lagi, lantaran semuanya sudah terbaca habis selama masa pandemi, maka gunakanlah pelatihan online baik yang gratis maupun berbayar. Pelatihan bisa berupa materi yang menyangkut pekerjaan, materi spiritual, materi umum, atau bahkan materi bisnis untuk mengembangkan usaha yang tengah digeluti. Setidaknya, persiapkan diri terlebih dahulu untuk bangkit usai krisis ini berakhir.
    ­
  2. Tingkatkan kemampuan yang sudah dimiliki
    Saya percaya, setiap orang tentu memiliki kemampuan yang sudah dimiliki dan digeluti sebelum pandemi ini terjadi. Maka, langkah selanjutnya untuk mengembangkan diri adalah mengikuti lebih banyak pelatihan secara online yang berhubungan dengan kemampuan tersebut. Manfaatkan grup yang dimiliki untuk bertukar pengetahuan. Segera praktikkan apa yang sudah dipelajari agar kemampuan semakin terasah.
    ­
    Tidak hanya mengikuti pelatihan, Anda pun bisa memanfaatkan channel ahli di bidang yang sesuai dengan kemampuan Anda yang banyak tersebar di Youtube.
    ­
  3. Lebih menjaga kesehatan dan kebersihan diri
    Wabah ini pasti akan berakhir, meski tidak tahu kapan waktunya. Untuk itu, selama masa pandemi masih berlangsung, tetap jaga kesehatan dan kebersihan diri. Meski berada di rumah, minimal lakukanlah olahraga 2 - 3 kali seminggu. Selain menjaga kesehatan, tubuh pun akan tetap bugar dan siap beraktivitas. Rasa stres akibat terus berdiam di rumah dapat teratasi.
    ­
    Kebersihan pun menjadi hal selanjutnya yang perlu dilakukan. Bila sebelumnya, Anda abai terhadap kebersihan sekitar, maka kini saatnya untuk membenahi diri. Mulai dari hal kecil yaitu selalu mencuci tangan setiap selesai beraktivitas, baik di dalam maupun di luar rumah. Selanjutnya, mulai menata barang-barang yang tidak perlu, merapikan kamar atau ruangan rumah.
    ­
  4. Mulai belajar mengelola keuangan yang baik untuk menghadapi krisis
    Di tengah krisis, hal yang paling krusial dan terasa adalah berkurangnya pemasukan. Untuk Anda yang berprofesi sebagai seorang pebisnis seperti saya, akan langsung terasa. Pemasukan tidak ada lantaran jual beli berkurang. Bila usaha tersebut bergerak di bidang yang terkena dampak paling buruk seperti pariwisata, transportasi, makanan, maka keuangan akan langsung goyah bila tanpa ada cadangan dana.
    ­
    Begitu pun untuk Anda yang menjadi karyawan. Perusahaan yang tidak mendapatkan pemasukan, akan kesulitan dalam melakukan pengeluaran seperti gaji karyawan, biaya operasional, atau bahkan tunjangan hari raya. Maka, ada banyak kebijakan yang diterapkan perusahaan, salah satunya unpaid leave atau memotong gaji. Bila Anda tidak memiliki cadangan tabungan, maka akan kesusahan untuk bertahan. Keadaan akan semakin terasa sulit lantaran kebutuhan harus terus berjalan sementara pemasukan berkurang.
    ­
    Maka, saat inilah Anda dapat belajar untuk melakukan manajemen keuangan. Anda bisa mengikuti pelatihan untuk pengelolaan keuangan, menyisihkan sebagian dari pemasukan yang tidak sebanyak biasanya ini untuk dana cadangan.
    ­
  5. Mulai mempelajari teknologi Dan memanfaatkannya dalam kehidupan
    Meski pandemi masih berlangsung, tetapi justru teknologi kini begitu dibutuhkan oleh masyarakat. Pasalnya, teknologilah yang mampu mendukung untuk tetap bertahan di tengah masa krisis ini.
    ­
    Contoh saja, dengan adanya teknologi pembelajaran dapat dilakukan secara online, sehingga murid ataupun mahasiswa masih tetap bisa belajar seperti hari-hari KBM biasanya. Begitu pun untuk pegawai kantoran, pekerjaan bisa diselesaikan di rumah berkat adanya teknologi.
    ­
    Maka, di waktu yang lebih banyak di rumah ini, manfaatkan untuk memperdalam pengetahuan teknologi. Menggunakannya untuk kebutuhan harian yang mampu menunjang produktivitas dalam bekerja dan berkarya.

Bagi Anda yang sudah paham dan dekat dengan teknologi, bisa mengembangkan kemampuan untuk menciptakan alat atau bahkan sistem baru yang bermanfaat untuk masyarakat di tengah wabah ini berlangsung. Misalnya saja sistem pendeteksi korban terinfeksi yang berada di sekitar tempat tinggal, alat pelindung khusus yang membantu para tenaga kesehatan dalam membantu para korban, atau alat tes yang meringankan pemerintah untuk melakukan pengecekan masyarakat terhadap virus ini.

Nah, kurang lebih itulah 5 hal yang bisa Anda lakukan dalam memanfaatkan masa pandemi guna untuk mengembangkan diri.

Hampir setiap waktu kita berhadapan dengan orang, duduk berdua atau rombongan dalam satu tempat. Salah satu dari kita pasti ada yang tengah berbicara, mengeluarkan pendapat, argumen atau bahkan sekadar ingin menceritakan apa yang sudah dialami. Sementara yang lain akan diam mendengarkan.

Apakah Kita Benar-Benar Mendengarkan?

Seringkali hanya tubuh yang memperlihatkan seolah 'mendengarkan' padahal mata bergerak ke sana kemari mencari obyek lain yang lebih menarik, otak melanglang buana memikirkan banyak hal, atau tangan sibuk mengetuk layar ponsel untuk melihat ada notifikasi apa di sana, meski sekilas.

Pada akhirnya, kita tidak mendengarkan dengan baik. Apalagi untuk memahami makna di dalam cerita yang disampaikan, mampu mengingat isinya setengah saja, sudah bersyukur sekali. Sebab, ada orang lain yang bahkan tidak mampu mengingat isi yang baru saja diutarakan atau berperan seakan mendengarkan, tetapi mempersiapkan lidah dan argumen untuk memotong atau mendebat.

Setiap ada teman, sahabat, saudara, atau bahkan rekan kerja bercerita, kita mungkin berpikir bahwa kita sudah mendengarkan dengan baik. Padahal belum tentu. Bagaimana Anda bisa mendengarkan jika tangan atau bahkan mata sibuk mencari obyek lain sebagai pengalihan di tengah kebosanan menyimak cerita yang tengah dibawakan?

Belajar Mendengarkan untuk Memahami

Stephen R. Covey, penulis buku The Seven Habits of Highly Effective People, mengutarakan bahwa banyak orang mendengarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk menyiapkan diri membalas ucapan lawan. Hal itu relevan dengan kehidupan sekarang.

Sering kita melihat kasus perdebatan di media sosial, entah masalah politik, bisnis, ataupun pribadi yang diusung oleh publik. Pihak yang berdebat selalu membenarkan opini masing-masing, enggan mendengarkan lawan untuk berbicara. Atau ketika ada kesempatan untuk diam sejenak dan mendengar, pikiran sudah menyiapkan kalimat untuk memotong atau melawannya. Akhirnya, perdebatan tiada ujung akan terus terjadi.

Yah, 'mendengar' yang seperti itu memang mudah dilakukan oleh siapa pun. Tidak peduli seperti apa statusnya di masyarakat dan seberapa banyak kekayaannya. Namun, nyatanya, yang dibutuhkan manusia adalah 'sebenar-benarnya mendengarkan', dengan konsentrasi penuh menyimak, membiarkan lawan selesai bicara, memberi waktu sejenak untuk mengolah informasi yang didapat Dan memahami, serta memberi reaksi yang tepat.

Tips untuk Belajar Mendengarkan Agar Bisa Menjadi Pendengar yang Baik

Dalam Psychology Today, Caren Osten mengenalkan lima tips untuk belajar mendengarkan agar bisa menjadi pendengar yang baik.

  1. Lakukan praktik terlebih dahulu dengan orang terdekat
    Kita bisa mulai berlatih menjadi pendengar yang baik. Langkah pertama adalah ajak teman terdekat atau saudara untuk berbincang. Biarkan mereka bercerita sepuasnya dan dengarkan. Buang jauh-jauh pemikiran apa pun di kepala, usahakan untuk tetap fokus dan konsentrasi.
    Jika memungkinkan, jauhkan ponsel atau benda-benda lain yang bisa merusak konsentrasi tersebut. Lakukan itu berulang untuk melatih kemampuan mendengarkan.
    ­
  2. Berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibahas
    Seperti yang dikatakan Stephen R. Covey, banyak orang mendengarkan hanya untuk melawan argumen si pembicara. Hal itu terjadi lantaran pemikiran mereka tertutup dengan asumsi yang mereka benarkan dan ketidaksiapan menerima pendapat orang lain. Alhasil perdebatan yang terjadi atau pembicaraan kosong tanpa solusi.
    ­
    Maka dari itu, sebelum belajar mendengarkan, pastikan Anda termasuk orang yang berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibicarakan. Hindari menyela pembicaraan lawan di tengah cerita, serta belajar untuk melihat isinya dari sudut pandang lain. Bukan dari sudut Anda, tapi sudut orang lain. Bahkan bisa juga memosisikan di pihak si pembicara.
    ­
  3. Relakskan tubuh dan tatapan, bersiap untuk menyimak
    Ini bukan aktivitas mendengarkan dalam pelajaran listening bahasa asing. Jadi, jangan gugup. Santai saja. Relakskan tubuh, fokuskan tatapan pada lawan bicara. Yah, anggap saja jika Anda di sana bukan semata-mata untuk mendengarkan atau memberi nasihat, tetapi mencari tambahan ilmu dari isi pembicaraan tersebut. Nyatanya, memang banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan melalui kegiatan mendengar dalam perbincangan ringan ini.
    ­
  4. Dengarkan dengan baik dan gunakan jeda yang ada untuk memahami
    Sering kita merasa canggung ketika ada jeda dalam percakapan. Usai lawan menyelesaikan ceritanya, kita bingung untuk memberi reaksi seperti apa. Lalu, keheningan terjadi.  Hingga akhirnya buru-buru mencari topik lain untuk mengisi kesunyian itu.
    ­
    Seharusnya, biarkan saja jeda itu diisi dengan keheningan. Gunakan kekosongan tersebut untuk memahami makna dari cerita yang disampaikan. Ingat lagi semua perkataannya dan dapatkan informasi penting yang merupakan inti dari kisah yang dibawakan.
    ­
  5. Berikan pertanyaan terbuka untuk mendapat lebih banyak cerita
    'Oh begitu, ya.' Reaksi tersebut pasti sering kita dapatkan usai bercerita. Atau mungkin kita yang memberikannya pada lawan bicara. Hal itu dapat terjadi ketika kita buru-buru memberi tanggapan seakan itu yang dibutuhkan si pembicara atau tidak menyimak dengan baik, sehingga tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Alih-alih memberi respons yang menunjukkan kualitas diri kita dalam menyimak, kita bisa melanjutkan perbincangan dengan memberi pertanyaan terbuka. Seperti, seperti apa rupanya? Apa yang kamu rasakan usai mengalaminya?

Pembicaraan pun akan terus berlanjut dan Anda akan mendapatkan lebih banyak lagi informasi.

Itulah mengapa belajar mendengarkan menjadi hal penting di kehidupan ini. Bukan untuk pribadi saja, tetapi juga untuk bisnis.

Menjadi generalis atau spesialis? Generalis merupakan seseorang yang bisa melakukan banyak hal. Sementara itu, spesialis hanya bisa melakukan satu hal, tetapi mendalam.

Kasus generalis ini serupa dengan istilah jack of all trades. Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Jack of all trades merupakan sebutan bagi mereka yang mampu melakukan berbagai macam hal tetapi tidak menguasai satu pun.

Dilansir dari The Futur, godaan menjadi generalis begitu besar terutama dalam bidang kreatif. Para pekerja kreatif cenderung bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, sehingga mereka memiliki dorongan buat mempelajari banyak hal. Namun, dorongan untuk menjadi generalis tidak hanya terjadi pada pekerja kreatif saja, di Indonesia, kebanyakan orang memang cenderung didesain menjadi generalis.

Dalam buku berjudul Why Asians are Less Creative than Westeners, Profesor Ng Aik Kwang, seorang pengajar di University of Queensland, menulis bahwa sistem pengajaran di Asia cenderung membentuk seorang anak menjadi jack of all trades, master of none.

Kita cenderung diajarkan banyak hal, tetapi tidak mendalaminya. Pada kasus sekolah pertama dan menengah misalnya, Anda diharuskan untuk bisa mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran atau Anda tidak akan lulus. Kurikulum juga hanya memberikan Anda pengetahuan terbatas mengenai berbagai macam hal.

Generalis atau Spesialis, Apa Keuntungan dan Kerugiannya?

Saya akan membahas lebih dalam mengenai generalis terlebih dahulu.

Anda tentu pernah punya teman yang bisa fotografi. Bisa menulis. Bisa menyunting video. Bahkan bisa coding. Kawan Anda ini akan dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Ia bahkan bisa mengambil berbagai pekerjaan lepas karena kemampuannya banyak.

Ia juga bisa membuka bisnis sendiri, karena ia mampu mengerjakan banyak hal. Seolah ia tak butuh rekan untuk melengkapinya lantaran ia serbabisa.

Namun, ada rintangan besar yang akan dihadapi oleh kawan Anda. Ia bisa membuka bisnis, tetapi sebanyak apapun kemampuannya, ia tetap butuh rekan karena sebanyak apapun kemampuan yang ia miliki, waktunya sangat terbatas.

Selain itu, para generalis hanya bisa mengerjakan proyek-proyek yang membutuhkan kemampuan entry level atau intermediate level. Ia tidak akan bisa mengerjakan proyek yang membutuhkan kemampuan expert. Padahal,  proyek besar dan berjangka panjang biasanya membutuhkan kemampuan expert.

Lalu bagaimana dengan spesialis?

Para spesialis akan dipekerjakan dalam proyek-proyek yang membutuhkan keahlian khusus. Mereka bisa mendapatkan banyak uang karena hal itu. Para spesialis juga berpotensi dikenal karena kemampuannya yang mendalam pada suatu bidang.

Namun, bukan berarti tidak ada sisi negatif dari menjadi spesialis. Para spesialis cenderung melewatkan kesempatan dari bidang lain. Padahal, bisa saja bidang yang ia geluti saat ini sudah tak dibutuhkan lagi atau banyak pesaingnya.

Apalagi, kini ada banyak pekerjaan manusia yang bisa digantikan oleh mesin. Kondisi ini menuntut manusia untuk bertahan hidup dengan memaksimalkan potensinya.

Menjadi Generalis Spesialis

Lantas, bagaimana cara untuk bisa bertahan di tengah kemajuan teknologi? Ada sebuah jalan tengah yang bisa kita ambil yakni menjadi generalis spesialis.

Seorang generalis spesialis memiliki keahlian khusus dalam satu bidang. Hanya saja, ia juga bisa melakukan hal-hal lain. Keahliannya dalam hal lain tentu tidak lebih besar daripada keahliannya di bidang khusus tersebut.

Dengan menjadi generalis spesialis, Anda bisa menguasai satu bidang dan dipercaya dalam proyek-proyek khusus, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi Anda untuk mengambil proyek-proyek lain yang diperuntukkan bagi pekerja entry atau intermediate level.

Apakah Anda ingin menjadi seorang generalis spesialis? Beberapa langkah ini bisa membantu Anda untuk mewujudkannya:

1. Pilih satu atau dua bidang yang Anda sukai

Mulailah dengan menjadi spesialis. Pelajari secara serius satu atau dua bidang yang memang Anda sukai. Kalau perlu, ambilah kursus atau sekolah resmi terkait hal tersebut. Tujuannya, supaya ada sertifikasi yang membuat Anda menjadi lebih dipercaya.

Selain itu, mulailah karier Anda dengan bekerja di bidang tersebut. Buatlah karya, perbanyak pengalaman, sehingga orang-orang pun akan bisa mengandalkan Anda di sana.

2. Mulai pelajari hal-hal lain yang menunjang

Menjadi generalis bukan berarti harus mempelajari semua hal. Pilih hal-hal yang memang sedang dibutuhkan atau relevan dengan spesialisasi Anda.

Contohnya, Anda adalah seorang penulis konten. Anda bisa belajar mengenai SEO, coding, digital marketing, bahkan fotografi. Namun, Anda tak perlu repot-repot belajar mengenai fashion design, kecuali Anda memang membutuhkannya untuk urusan pekerjaan atau Anda punya minat juga terhadap hal tersebut.

3. Atur waktu

Mempelajari hal-hal lain memang menguras waktu, tetapi selama Anda tahu cara mengatur waktu dan membuat prioritas, Anda tak akan pernah kewalahan saat belajar.

Anda bisa mulai mempelajari hal-hal baru secara daring alias online, di sela-sela pekerjaan atau aktivitas utama Anda. Sekarang, banyak hal bisa dipelajari secara daring. Kursus-kursus ini tidak hanya personal dan fleksibel lho, tetapi juga lebih murah.

Anda kini tidak perlu bingung memilih apakah Anda ingin menjadi generalis atau spesialis. Anda bisa menjadi generalis spesialis dengan mengutamakan satu keahlian dan tetap meluangkan waktu buat mempelajari hal lain.

Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=TmPHqX2P3vM
https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/menjadi-orang-generalis-spesialis-untuk-jawab-tantangan-ekonomi-digital-bagaimana-caranya-124697

Ketika krisis COVID-19 mulai melanda di Indonesia, saya menyadari bahwa ini adalah pertanda buruk bagi banyak hal—termasuk bagi bisnis. Wabah ini merupakan sesuatu yang tak dapat dikendalikan. Seorang business owner ulung tentu sudah mempersiapkan banyak rencana cadangan, tetapi siapa yang mengira bahwa sebuah pandemi akan menciptakan pukulan telak bagi bisnis di tahun 2020?

Prediksi tahun 2019 terkait beberapa bisnis yang akan moncer di tahun tikus logam ini kini hanya menjadi angan-angan kosong belaka. Namun, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap krisis. Sebagai pebisnis, pandemi ini memberikan saya beberapa pelajaran berharga yang dapat membantu saya untuk mempertahankan kelanggengan bisnis di masa mendatang. Hal-hal ini juga layak menjadi renungan bagi para business owner, apapun lini bisnis yang Anda jalankan.

Kebutuhan Manusia Sama, tetapi Perubahan akan Selalu Ada

Bisnis terkait kebutuhan primer selalu punya peminat, tetapi nyatanya, bisnis semacam ini juga terkena dampak wabah Corona. Restoran-restoran sepi hingga merumahkan pegawai-pegawainya. Dilansir dari CNBC, proyek properti pun banyak yang berjalan di tempat.

Perubahan, baik positif ataupun negatif, akan selalu ada. Meskipun barang yang kita jual adalah barang yang selalu dicari banyak orang, tetapi kita harus punya rencana untuk menghadapi perubahan. Rangkullah perubahan positif untuk menanggulangi perubahan negatif.

Misalnya, jika Anda adalah pemilik bisnis restoran, optimalkan layanan pesan antar. Jangan ragu untuk bekerja sama dengan transportasi online supaya bisnis Anda tetap hidup di masa pandemi dan masa-masa lain yang kurang bersahabat. Bulan ini, bisa jadi bisnis kita laris manis. Bulan depan, siapa yang tahu? Tren berubah, kondisi masyarakat berubah, dunia berubah.

Jangan Menutup Diri terhadap Berbagai Macam Kesempatan

Pernahkah Anda menonton film Happy Gilmore yang dibintangi oleh Adam Sandlers? Happy Gilmore digambarkan sebagai pemuda yang terobsesi untuk menjadi pemain hoki, tetapi selalu gagal meraih mimpinya sejak kecil dan malah terjebak di dalam dunia golf. Awalnya, Gilmore menolak tawaran takdir tersebut, tetapi perlahan ia menyadari bahwa keberuntungannya berada di dunia golf, bukannya hoki.

Meskipun tidak berhubungan dengan dunia bisnis, tetapi semangat dalam film tersebut cocok diterapkan oleh para pebisnis. Bisa jadi Anda ingin membuka bisnis kafe, tetapi bagaimana jika rezeki Anda ada di bisnis warteg?

Idealisme memang harus dimiliki oleh business owner, tetapi ada satu hal yang juga harus Anda pelajari : critical thinking. Anda harus mampu mengurai masalah apa yang ingin Anda selesaikan dalam bisnis dan tujuan apa yang sebenarnya ingin Anda raih.

Terbuka terhadap Cara-Cara Baru

Beberapa pelaku bisnis cenderung fanatik terhadap ide atau konsep tertentu. Misalnya, Anda lebih suka mengikuti bazaar untuk mempromosikan produk daripada menggunakan pemasaran digital.

Sistem bazaar tidak selalu berjalan mulus, contohnya di musim wabah seperti saat ini. Untuk menanggulangi pemasaran yang mandek, Anda bisa mencoba sistem digital marketing alias pemasaran di dunia maya. Orang-orang memang tidak beraktivitas di luar rumah, tetapi mereka tetap menggunakan Internet.

Bersahabat dengan Teknologi Adalah Cara Terbaik

Harus diakui bahwa teknologi banyak menyelamatkan kita, terutama dalam kondisi social distancing semacam ini. Teknologi mendekatkan kita pada rekan-rekan yang jauh, mempermudah koordinasi pekerjaan, memberikan informasi, bahkan mempermudah mendapatkan barang-barang kebutuhan.

Pebisnis yang berpotensi sukses mampu memanfaatkan sisi baik teknologi, kemudian menerapkannya dalam bisnis mereka. Contohnya, mempermudah pelanggan untuk memesan produk via situs atau aplikasi messenger.

Meningkatkan Kualitas Diri Itu Penting

Warren Buffett, investor tersukses di Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa salah satu investasi terbaik adalah pada diri sendiri. Investasi terbaik pada diri Anda bisa dimulai dengan banyak-banyak belajar tentang hal baru, terutama yang memiliki kaitan dengan bisnis Anda.

Saya sendiri merekomendasikan Anda untuk mengambil banyak pelatihan daring alias online ketika harus work from home. Kegiatan ini, selain mengurangi rasa bosan di rumah, juga sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berbisnis.

Kesulitan dan Kemudahan Dipengaruhi oleh Pola Pikir

Di musim wabah seperti saat ini, saya berusaha untuk menjaga pikiran dari hal-hal yang negatif. Kekuatan pikiran punya pengaruh besar terhadap kondisi Anda. Jika Anda berpikir bahwa tidak ada sedikit pun kesempatan bagi Anda untuk menghasilkan uang, Anda akan kesulitan mencari cara buat melakukannya. Anda sudah terjebak dalam pikiran negatif dan tidak mau berusaha keras.

Bagaimana jika Anda senantiasa optimistis? Semangat di dalam diri Anda akan tumbuh dan Anda akan selalu bisa menemukan cara untuk menjadi lebih baik daripada hari ini.

Menyiapkan Dana Cadangan Selalu Menjadi Pilihan Tepat

Ketika omzet meningkat, beberapa orang tidak menyadari bahwa hal tersebut bisa saja tidak berlangsung selamanya. Selama saya berbisnis, selalu ada hari yang cerah tetapi ada juga saatnya mendung. Kita harus selalu mempersiapkan diri pada hari-hari terburuk. Dalam bisnis, ada baiknya mempersiapkan dana cadangan jauh-jauh hari, terutama jika bisnis yang Anda jalankan berskala UMKM.

Dana cadangan bisa dipakai untuk menanggulangi kerugian, menggaji karyawan, atau bahkan membuat bisnis tidak pailit. Mempersiapkan diri tidak pernah membuat kita rugi.

Tidak Ada Tempat untuk Keraguan

Sebelum wabah Corona merebak, beberapa di antara kita sering merasa ragu untuk mengambil langkah bisnis tertentu. Manusia memang suka menunda, terutama jika tidak ada tekanan yang memaksa mereka untuk berubah. Namun, Corona datang dan ia seolah menjadi perundung yang membawa manusia ke titik terendah. Pada titik terendah ini, kita dipaksa untuk mengambil langkah terbaik agar tetap bertahan hidup.

Jika sebelumnya Anda merasa ragu untuk mengambil langkah efektif demi kemajuan bisnis, kini adalah saat yang tepat.

Menjadi business owner membutuhkan konsistensi dan kemauan untuk tidak berhenti belajar. Saya rasa, dalam krisis yang tidak terduga ini, Anda memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri dan mengambil setiap pelajaran bahkan dari hal-hal terburuk sekalipun.

Sumber:
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200406082431-4-149915/proyek-properti-mulai-mandek-pengembang-mulai-berjatuhan
https://internasional.kontan.co.id/news/warren-buffett-berinvestasilah-pada-dirimu-sendiri?page=all

Quick Links

© 2021 Tri Lastiko. All rights reserved.
phone-handsetmap-marker