Siapa manusia di dunia ini yang ingin miskin dan hidup kekurangan? Tentu tidak ada yang mau. Andai bisa meminta sebelum dilahirkan, pasti semua akan meminta untuk jadi orang kaya, banyak uang, harta melimpah, dan bahagia. Tidak ada masalah apa pun dalam hidup.

Yah, sayangnya kita sebagai tokoh dalam kehidupan tidak bisa meminta itu kepada sang sutradara hidup ketika dilahirkan. Kita hanya bisa menerima takdir yang diberikan dan mengusahakan untuk bisa hidup lebih baik lagi. Salah satunya dengan memiliki lebih banyak uang.

Semua Bisa Jadi Kaya

Sebagian orang berpikir jika dirinya dilahirkan miskin, maka sampai kapan pun akan tetap sama, bahkan hingga ajal untuk menjemput. Padahal, Tuhan tidak akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik ketika dirinya pasrah dan enggan berusaha.

Tidakkah banyak pengusaha sukses yang lahir dari golongan bawah? Banyak contoh di negeri ini. Sebut saja Ibu Susi Pudjiastuti yang melakoni pekerjaan seorang pengepul di Pandanaran sejak remaja sebelum akhirnya sukses sebagai pebisnis dan diangkat menjadi menteri.

Begitu pun dengan Chairul Tanjung atau biasa disebut dengan CT. Dulunya dia hidup serba sulit dan harus berjuang untuk membantu biaya kuliah dengan berjualan buku, LKS, kaos, bahkan membuka kios fotokopi di depan kampus. Sebutan Si Anak Singkong atau Anak Kampung melekat pada dirinya. Tetapi dengan usaha keras ingin menaikkan taraf hidup, keduanya kini mampu menjadi orang sukses dan memiliki lebih banyak uang.

Nah, hal yang mendorong mereka untuk berubah adalah pola pikir akan uang serta keadaan yang dialami. Mereka berdua memiliki pemikiran untuk berkelimpahan atau berkecukupan harta terlebih dahulu sebelum melangkah. Abundance mindset namanya. Lawannya adalah scarcity mindset atau pola pemikiran serba kekurangan.

Lebih jelasnya mengenai dua pola pikir itu, mari simak ulasan saya.

Abundance Mindset Dan Cara Memperolehnya

lebih-banyak-uang-2

Abundance mindset atau pola pikir berkelimpahan. Artinya kita menganggap diri memiliki harta yang cukup sehingga dengan mudah membagikan kepada orang lain. Bersedekah mudah sekali dilakukan, sekalipun dalam keadaan sulit. Bahkan, di masa kekurangan pun, tangan selalu berusaha untuk berada di atas, tidak di bawah.

Mungkin kita akan berpikir bila hanya orang-orang berduit banyak yang bisa memiliki pola pikir itu. Lantaran mereka bisa dengan mudah menggelontorkan uang untuk membantu yang lain. Nyatanya itu salah.

Baik kaya atau miskin, siapa pun bisa memiliki abundance mindset ini. Pasalnya, ada orang kaya sejak lahir tetapi berpikiran sempit dan cenderung pelit, menganggap apa yang dimiliki adalah miliknya.

Ada pula orang miskin yang untuk makan sehari-hari saja susah sekali, tetapi dengan mudah mengulurkan tangan untuk membantu, meskipun hanya sedikit. Sebab, mereka percaya apa yang dikeluarkan untuk kebaikan, akan kembali dalam keadaan baik kepada mereka.

Dengan memiliki pola pikir berkelimpahan seperti itu, artinya kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Tidak mudah iri dan dengki melihat kesuksesan orang lain. Bila mereka bisa kaya dan sukses, maka aku pun bisa. Itulah mindset-nya.

Lantas, bagaimana melatih untuk bisa mempunyai abundance mindset ini?

Salah satunya dengan bersyukur. Mensyukuri apa yang diperoleh, kemudian membaginya kepada orang lain.

Scarcity Mindset yang Harus Dijauhi

Kebalikan dari abundance mindset adalah scarcity mindset. Artinya mempunyai pola pikir kekurangan. Apa yang sudah ada dalam genggaman, itu menjadi milik kita dan harus dijaga baik-baik, jangan sampai lepas. Mudahnya, ketika kita mendapatkan uang, kita menjaganya agar tidak keluar sepeser pun dari tabungan.

Uang masuk boleh-boleh saja, bahkan keharusan. Tetapi uang keluar, jangan. Pelit, itulah sebutannya.

Berbagi adalah hal yang langka bagi pemilik scarcity mindset. Bekerja keras dan menghasilkan lebih banyak uang adalah keharusan, hingga menghalalkan segala cara, tidak peduli cara baik atau buruk.

Pemilik pola pikir ini sering kali mudah berprasangka buruk terhadap keberhasilan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang pesimis dengan kehidupan yang dijalani.

Ah, dia beruntung aja dapat posisi seperti sekarang.”

“Dia kan emang udah kaya dari sebelum lahir. Keluarganya juga kaya gitu, jadi wajarlah.”

“Aku nggak bisa seperti mereka.”

“Makan aja susah, gimana mau bantu?”

Itulah contoh ucapan yang akan kita dengar dari pemilik scarcity mindset. Kalimat-kalimat itu hanya akan membuat kita semakin terpuruk pada keadaan. Berjalan di tempat dan tidak akan bisa berkembang, seberapa keras pun bekerja. Untuk itu, sebaiknya hindari berpikiran kekurangan ini.

Tips Sukses Mendapat Lebih Banyak Uang

lebih-banyak-uang-3

Nah, untuk bisa lepas dari jerat kesusahan dan memiliki lebih banyak uang, coba beberapa tips ini.

  1. Jangan jadikan uang sebagai tujuan tapi anggaplah hanya sebagai alat untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai.
  2. Uang bukan penyebab masalah, tetapi pola pikir kita akan keberadaan uang yang bermasalah dan perlu diperbaiki.
  3. Agar menjadi kaya, tidak harus terlahir dari keluarga kaya atau mendapat pasangan kaya, tetapi dengan dimulai dengan mengubah pola pikir dan perilaku.

Kurang lebih itulah mindset yang harus kita miliki untuk bisa menghasilkan lebih banyak uang.

Saya bukan pakar keuangan atau seorang financial planner. Tetapi banting setir menjadi entrepreneur memaksa saya untuk bisa paham dan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada. Saya menyadari bahwa semuanya kembali ke mindset dan bahwa uang adalah alat untuk mendapatkan lebih banyak uang lagi.

Jika ingin berdiskusi, silakan tinggalkan komen di postingan ini. Atau ada pertanyaan terkhusus bagaimana caranya mengelola finance dari agency yang Anda miliki, kirimkan email ke sini..

Selamat menerapkan mindset di atas ya!

Siapa manusia di dunia ini yang ingin miskin dan hidup kekurangan? Tentu tidak ada yang mau. Andai bisa meminta sebelum dilahirkan, pasti semua akan meminta untuk jadi orang kaya, banyak uang, harta melimpah, dan bahagia. Tidak ada masalah apa pun dalam hidup.

Yah, sayangnya kita sebagai tokoh dalam kehidupan tidak bisa meminta itu kepada sang sutradara hidup ketika dilahirkan. Kita hanya bisa menerima takdir yang diberikan dan mengusahakan untuk bisa hidup lebih baik lagi. Salah satunya dengan memiliki lebih banyak uang.

Semua Bisa Jadi Kaya

Sebagian orang berpikir jika dirinya dilahirkan miskin, maka sampai kapan pun akan tetap sama, bahkan hingga ajal untuk menjemput. Padahal, Tuhan tidak akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik ketika dirinya pasrah dan enggan berusaha.

Tidakkah banyak pengusaha sukses yang lahir dari golongan bawah? Banyak contoh di negeri ini. Sebut saja Ibu Susi Pudjiastuti yang melakoni pekerjaan seorang pengepul di Pandanaran sejak remaja sebelum akhirnya sukses sebagai pebisnis dan diangkat menjadi menteri.

Begitu pun dengan Chairul Tanjung atau biasa disebut dengan CT. Dulunya dia hidup serba sulit dan harus berjuang untuk membantu biaya kuliah dengan berjualan buku, LKS, kaos, bahkan membuka kios fotokopi di depan kampus. Sebutan Si Anak Singkong atau Anak Kampung melekat pada dirinya. Tetapi dengan usaha keras ingin menaikkan taraf hidup, keduanya kini mampu menjadi orang sukses dan memiliki lebih banyak uang.

Nah, hal yang mendorong mereka untuk berubah adalah pola pikir akan uang serta keadaan yang dialami. Mereka berdua memiliki pemikiran untuk berkelimpahan atau berkecukupan harta terlebih dahulu sebelum melangkah. Abundance mindset namanya. Lawannya adalah scarcity mindset atau pola pemikiran serba kekurangan.

Lebih jelasnya mengenai dua pola pikir itu, mari simak ulasan saya.

Abundance Mindset Dan Cara Memperolehnya

lebih-banyak-uang-2

Abundance mindset atau pola pikir berkelimpahan. Artinya kita menganggap diri memiliki harta yang cukup sehingga dengan mudah membagikan kepada orang lain. Bersedekah mudah sekali dilakukan, sekalipun dalam keadaan sulit. Bahkan, di masa kekurangan pun, tangan selalu berusaha untuk berada di atas, tidak di bawah.

Mungkin kita akan berpikir bila hanya orang-orang berduit banyak yang bisa memiliki pola pikir itu. Lantaran mereka bisa dengan mudah menggelontorkan uang untuk membantu yang lain. Nyatanya itu salah.

Baik kaya atau miskin, siapa pun bisa memiliki abundance mindset ini. Pasalnya, ada orang kaya sejak lahir tetapi berpikiran sempit dan cenderung pelit, menganggap apa yang dimiliki adalah miliknya.

Ada pula orang miskin yang untuk makan sehari-hari saja susah sekali, tetapi dengan mudah mengulurkan tangan untuk membantu, meskipun hanya sedikit. Sebab, mereka percaya apa yang dikeluarkan untuk kebaikan, akan kembali dalam keadaan baik kepada mereka.

Dengan memiliki pola pikir berkelimpahan seperti itu, artinya kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Tidak mudah iri dan dengki melihat kesuksesan orang lain. Bila mereka bisa kaya dan sukses, maka aku pun bisa. Itulah mindset-nya.

Lantas, bagaimana melatih untuk bisa mempunyai abundance mindset ini?

Salah satunya dengan bersyukur. Mensyukuri apa yang diperoleh, kemudian membaginya kepada orang lain.

Scarcity Mindset yang Harus Dijauhi

Kebalikan dari abundance mindset adalah scarcity mindset. Artinya mempunyai pola pikir kekurangan. Apa yang sudah ada dalam genggaman, itu menjadi milik kita dan harus dijaga baik-baik, jangan sampai lepas. Mudahnya, ketika kita mendapatkan uang, kita menjaganya agar tidak keluar sepeser pun dari tabungan.

Uang masuk boleh-boleh saja, bahkan keharusan. Tetapi uang keluar, jangan. Pelit, itulah sebutannya.

Berbagi adalah hal yang langka bagi pemilik scarcity mindset. Bekerja keras dan menghasilkan lebih banyak uang adalah keharusan, hingga menghalalkan segala cara, tidak peduli cara baik atau buruk.

Pemilik pola pikir ini sering kali mudah berprasangka buruk terhadap keberhasilan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang pesimis dengan kehidupan yang dijalani.

"Ah, dia beruntung aja dapat posisi seperti sekarang."

"Dia kan emang udah kaya dari sebelum lahir. Keluarganya juga kaya gitu, jadi wajarlah."

"Aku nggak bisa seperti mereka."

"Makan aja susah, gimana mau bantu?"

Itulah contoh ucapan yang akan kita dengar dari pemilik scarcity mindset. Kalimat-kalimat itu hanya akan membuat kita semakin terpuruk pada keadaan. Berjalan di tempat dan tidak akan bisa berkembang, seberapa keras pun bekerja. Untuk itu, sebaiknya hindari berpikiran kekurangan ini.

Tips Sukses Mendapat Lebih Banyak Uang

lebih-banyak-uang-3

Nah, untuk bisa lepas dari jerat kesusahan dan memiliki lebih banyak uang, coba beberapa tips ini.

  1. Jangan jadikan uang sebagai tujuan tapi anggaplah hanya sebagai alat untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai.
  2. Uang bukan penyebab masalah, tetapi pola pikir kita akan keberadaan uang yang bermasalah dan perlu diperbaiki.
  3. Agar menjadi kaya, tidak harus terlahir dari keluarga kaya atau mendapat pasangan kaya, tetapi dengan dimulai dengan mengubah pola pikir dan perilaku.

Kurang lebih itulah mindset yang harus kita miliki untuk bisa menghasilkan lebih banyak uang.

Saya bukan pakar keuangan atau seorang financial planner. Tetapi banting setir menjadi entrepreneur memaksa saya untuk bisa paham dan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah ada. Saya menyadari bahwa semuanya kembali ke mindset dan bahwa uang adalah alat untuk mendapatkan lebih banyak uang lagi.

Jika ingin berdiskusi, silakan tinggalkan komen di postingan ini. Atau ada pertanyaan terkhusus bagaimana caranya mengelola finance dari agency yang Anda miliki, kirimkan email ke sini..

Selamat menerapkan mindset di atas ya!

Hampir setiap waktu kita berhadapan dengan orang, duduk berdua atau rombongan dalam satu tempat. Salah satu dari kita pasti ada yang tengah berbicara, mengeluarkan pendapat, argumen atau bahkan sekadar ingin menceritakan apa yang sudah dialami. Sementara yang lain akan diam mendengarkan.

Apakah Kita Benar-Benar Mendengarkan?

Seringkali hanya tubuh yang memperlihatkan seolah 'mendengarkan' padahal mata bergerak ke sana kemari mencari obyek lain yang lebih menarik, otak melanglang buana memikirkan banyak hal, atau tangan sibuk mengetuk layar ponsel untuk melihat ada notifikasi apa di sana, meski sekilas.

Pada akhirnya, kita tidak mendengarkan dengan baik. Apalagi untuk memahami makna di dalam cerita yang disampaikan, mampu mengingat isinya setengah saja, sudah bersyukur sekali. Sebab, ada orang lain yang bahkan tidak mampu mengingat isi yang baru saja diutarakan atau berperan seakan mendengarkan, tetapi mempersiapkan lidah dan argumen untuk memotong atau mendebat.

Setiap ada teman, sahabat, saudara, atau bahkan rekan kerja bercerita, kita mungkin berpikir bahwa kita sudah mendengarkan dengan baik. Padahal belum tentu. Bagaimana Anda bisa mendengarkan jika tangan atau bahkan mata sibuk mencari obyek lain sebagai pengalihan di tengah kebosanan menyimak cerita yang tengah dibawakan?

Belajar Mendengarkan untuk Memahami

Stephen R. Covey, penulis buku The Seven Habits of Highly Effective People, mengutarakan bahwa banyak orang mendengarkan bukan untuk memahami, melainkan untuk menyiapkan diri membalas ucapan lawan. Hal itu relevan dengan kehidupan sekarang.

Sering kita melihat kasus perdebatan di media sosial, entah masalah politik, bisnis, ataupun pribadi yang diusung oleh publik. Pihak yang berdebat selalu membenarkan opini masing-masing, enggan mendengarkan lawan untuk berbicara. Atau ketika ada kesempatan untuk diam sejenak dan mendengar, pikiran sudah menyiapkan kalimat untuk memotong atau melawannya. Akhirnya, perdebatan tiada ujung akan terus terjadi.

Yah, 'mendengar' yang seperti itu memang mudah dilakukan oleh siapa pun. Tidak peduli seperti apa statusnya di masyarakat dan seberapa banyak kekayaannya. Namun, nyatanya, yang dibutuhkan manusia adalah 'sebenar-benarnya mendengarkan', dengan konsentrasi penuh menyimak, membiarkan lawan selesai bicara, memberi waktu sejenak untuk mengolah informasi yang didapat Dan memahami, serta memberi reaksi yang tepat.

Tips untuk Belajar Mendengarkan Agar Bisa Menjadi Pendengar yang Baik

Dalam Psychology Today, Caren Osten mengenalkan lima tips untuk belajar mendengarkan agar bisa menjadi pendengar yang baik.

  1. Lakukan praktik terlebih dahulu dengan orang terdekat
    Kita bisa mulai berlatih menjadi pendengar yang baik. Langkah pertama adalah ajak teman terdekat atau saudara untuk berbincang. Biarkan mereka bercerita sepuasnya dan dengarkan. Buang jauh-jauh pemikiran apa pun di kepala, usahakan untuk tetap fokus dan konsentrasi.
    Jika memungkinkan, jauhkan ponsel atau benda-benda lain yang bisa merusak konsentrasi tersebut. Lakukan itu berulang untuk melatih kemampuan mendengarkan.
    ­
  2. Berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibahas
    Seperti yang dikatakan Stephen R. Covey, banyak orang mendengarkan hanya untuk melawan argumen si pembicara. Hal itu terjadi lantaran pemikiran mereka tertutup dengan asumsi yang mereka benarkan dan ketidaksiapan menerima pendapat orang lain. Alhasil perdebatan yang terjadi atau pembicaraan kosong tanpa solusi.
    ­
    Maka dari itu, sebelum belajar mendengarkan, pastikan Anda termasuk orang yang berpikiran terbuka dan siap menerima apa pun konteks yang akan dibicarakan. Hindari menyela pembicaraan lawan di tengah cerita, serta belajar untuk melihat isinya dari sudut pandang lain. Bukan dari sudut Anda, tapi sudut orang lain. Bahkan bisa juga memosisikan di pihak si pembicara.
    ­
  3. Relakskan tubuh dan tatapan, bersiap untuk menyimak
    Ini bukan aktivitas mendengarkan dalam pelajaran listening bahasa asing. Jadi, jangan gugup. Santai saja. Relakskan tubuh, fokuskan tatapan pada lawan bicara. Yah, anggap saja jika Anda di sana bukan semata-mata untuk mendengarkan atau memberi nasihat, tetapi mencari tambahan ilmu dari isi pembicaraan tersebut. Nyatanya, memang banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan melalui kegiatan mendengar dalam perbincangan ringan ini.
    ­
  4. Dengarkan dengan baik dan gunakan jeda yang ada untuk memahami
    Sering kita merasa canggung ketika ada jeda dalam percakapan. Usai lawan menyelesaikan ceritanya, kita bingung untuk memberi reaksi seperti apa. Lalu, keheningan terjadi.  Hingga akhirnya buru-buru mencari topik lain untuk mengisi kesunyian itu.
    ­
    Seharusnya, biarkan saja jeda itu diisi dengan keheningan. Gunakan kekosongan tersebut untuk memahami makna dari cerita yang disampaikan. Ingat lagi semua perkataannya dan dapatkan informasi penting yang merupakan inti dari kisah yang dibawakan.
    ­
  5. Berikan pertanyaan terbuka untuk mendapat lebih banyak cerita
    'Oh begitu, ya.' Reaksi tersebut pasti sering kita dapatkan usai bercerita. Atau mungkin kita yang memberikannya pada lawan bicara. Hal itu dapat terjadi ketika kita buru-buru memberi tanggapan seakan itu yang dibutuhkan si pembicara atau tidak menyimak dengan baik, sehingga tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Alih-alih memberi respons yang menunjukkan kualitas diri kita dalam menyimak, kita bisa melanjutkan perbincangan dengan memberi pertanyaan terbuka. Seperti, seperti apa rupanya? Apa yang kamu rasakan usai mengalaminya?

Pembicaraan pun akan terus berlanjut dan Anda akan mendapatkan lebih banyak lagi informasi.

Itulah mengapa belajar mendengarkan menjadi hal penting di kehidupan ini. Bukan untuk pribadi saja, tetapi juga untuk bisnis.

Menjadi generalis atau spesialis? Generalis merupakan seseorang yang bisa melakukan banyak hal. Sementara itu, spesialis hanya bisa melakukan satu hal, tetapi mendalam.

Kasus generalis ini serupa dengan istilah jack of all trades. Pernahkah Anda mendengar istilah ini? Jack of all trades merupakan sebutan bagi mereka yang mampu melakukan berbagai macam hal tetapi tidak menguasai satu pun.

Dilansir dari The Futur, godaan menjadi generalis begitu besar terutama dalam bidang kreatif. Para pekerja kreatif cenderung bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, sehingga mereka memiliki dorongan buat mempelajari banyak hal. Namun, dorongan untuk menjadi generalis tidak hanya terjadi pada pekerja kreatif saja, di Indonesia, kebanyakan orang memang cenderung didesain menjadi generalis.

Dalam buku berjudul Why Asians are Less Creative than Westeners, Profesor Ng Aik Kwang, seorang pengajar di University of Queensland, menulis bahwa sistem pengajaran di Asia cenderung membentuk seorang anak menjadi jack of all trades, master of none.

Kita cenderung diajarkan banyak hal, tetapi tidak mendalaminya. Pada kasus sekolah pertama dan menengah misalnya, Anda diharuskan untuk bisa mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran atau Anda tidak akan lulus. Kurikulum juga hanya memberikan Anda pengetahuan terbatas mengenai berbagai macam hal.

Generalis atau Spesialis, Apa Keuntungan dan Kerugiannya?

Saya akan membahas lebih dalam mengenai generalis terlebih dahulu.

Anda tentu pernah punya teman yang bisa fotografi. Bisa menulis. Bisa menyunting video. Bahkan bisa coding. Kawan Anda ini akan dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Ia bahkan bisa mengambil berbagai pekerjaan lepas karena kemampuannya banyak.

Ia juga bisa membuka bisnis sendiri, karena ia mampu mengerjakan banyak hal. Seolah ia tak butuh rekan untuk melengkapinya lantaran ia serbabisa.

Namun, ada rintangan besar yang akan dihadapi oleh kawan Anda. Ia bisa membuka bisnis, tetapi sebanyak apapun kemampuannya, ia tetap butuh rekan karena sebanyak apapun kemampuan yang ia miliki, waktunya sangat terbatas.

Selain itu, para generalis hanya bisa mengerjakan proyek-proyek yang membutuhkan kemampuan entry level atau intermediate level. Ia tidak akan bisa mengerjakan proyek yang membutuhkan kemampuan expert. Padahal,  proyek besar dan berjangka panjang biasanya membutuhkan kemampuan expert.

Lalu bagaimana dengan spesialis?

Para spesialis akan dipekerjakan dalam proyek-proyek yang membutuhkan keahlian khusus. Mereka bisa mendapatkan banyak uang karena hal itu. Para spesialis juga berpotensi dikenal karena kemampuannya yang mendalam pada suatu bidang.

Namun, bukan berarti tidak ada sisi negatif dari menjadi spesialis. Para spesialis cenderung melewatkan kesempatan dari bidang lain. Padahal, bisa saja bidang yang ia geluti saat ini sudah tak dibutuhkan lagi atau banyak pesaingnya.

Apalagi, kini ada banyak pekerjaan manusia yang bisa digantikan oleh mesin. Kondisi ini menuntut manusia untuk bertahan hidup dengan memaksimalkan potensinya.

Menjadi Generalis Spesialis

Lantas, bagaimana cara untuk bisa bertahan di tengah kemajuan teknologi? Ada sebuah jalan tengah yang bisa kita ambil yakni menjadi generalis spesialis.

Seorang generalis spesialis memiliki keahlian khusus dalam satu bidang. Hanya saja, ia juga bisa melakukan hal-hal lain. Keahliannya dalam hal lain tentu tidak lebih besar daripada keahliannya di bidang khusus tersebut.

Dengan menjadi generalis spesialis, Anda bisa menguasai satu bidang dan dipercaya dalam proyek-proyek khusus, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi Anda untuk mengambil proyek-proyek lain yang diperuntukkan bagi pekerja entry atau intermediate level.

Apakah Anda ingin menjadi seorang generalis spesialis? Beberapa langkah ini bisa membantu Anda untuk mewujudkannya:

1. Pilih satu atau dua bidang yang Anda sukai

Mulailah dengan menjadi spesialis. Pelajari secara serius satu atau dua bidang yang memang Anda sukai. Kalau perlu, ambilah kursus atau sekolah resmi terkait hal tersebut. Tujuannya, supaya ada sertifikasi yang membuat Anda menjadi lebih dipercaya.

Selain itu, mulailah karier Anda dengan bekerja di bidang tersebut. Buatlah karya, perbanyak pengalaman, sehingga orang-orang pun akan bisa mengandalkan Anda di sana.

2. Mulai pelajari hal-hal lain yang menunjang

Menjadi generalis bukan berarti harus mempelajari semua hal. Pilih hal-hal yang memang sedang dibutuhkan atau relevan dengan spesialisasi Anda.

Contohnya, Anda adalah seorang penulis konten. Anda bisa belajar mengenai SEO, coding, digital marketing, bahkan fotografi. Namun, Anda tak perlu repot-repot belajar mengenai fashion design, kecuali Anda memang membutuhkannya untuk urusan pekerjaan atau Anda punya minat juga terhadap hal tersebut.

3. Atur waktu

Mempelajari hal-hal lain memang menguras waktu, tetapi selama Anda tahu cara mengatur waktu dan membuat prioritas, Anda tak akan pernah kewalahan saat belajar.

Anda bisa mulai mempelajari hal-hal baru secara daring alias online, di sela-sela pekerjaan atau aktivitas utama Anda. Sekarang, banyak hal bisa dipelajari secara daring. Kursus-kursus ini tidak hanya personal dan fleksibel lho, tetapi juga lebih murah.

Anda kini tidak perlu bingung memilih apakah Anda ingin menjadi generalis atau spesialis. Anda bisa menjadi generalis spesialis dengan mengutamakan satu keahlian dan tetap meluangkan waktu buat mempelajari hal lain.

Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=TmPHqX2P3vM
https://www.google.com/amp/s/theconversation.com/amp/menjadi-orang-generalis-spesialis-untuk-jawab-tantangan-ekonomi-digital-bagaimana-caranya-124697

Ketika krisis COVID-19 mulai melanda di Indonesia, saya menyadari bahwa ini adalah pertanda buruk bagi banyak hal—termasuk bagi bisnis. Wabah ini merupakan sesuatu yang tak dapat dikendalikan. Seorang business owner ulung tentu sudah mempersiapkan banyak rencana cadangan, tetapi siapa yang mengira bahwa sebuah pandemi akan menciptakan pukulan telak bagi bisnis di tahun 2020?

Prediksi tahun 2019 terkait beberapa bisnis yang akan moncer di tahun tikus logam ini kini hanya menjadi angan-angan kosong belaka. Namun, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap krisis. Sebagai pebisnis, pandemi ini memberikan saya beberapa pelajaran berharga yang dapat membantu saya untuk mempertahankan kelanggengan bisnis di masa mendatang. Hal-hal ini juga layak menjadi renungan bagi para business owner, apapun lini bisnis yang Anda jalankan.

Kebutuhan Manusia Sama, tetapi Perubahan akan Selalu Ada

Bisnis terkait kebutuhan primer selalu punya peminat, tetapi nyatanya, bisnis semacam ini juga terkena dampak wabah Corona. Restoran-restoran sepi hingga merumahkan pegawai-pegawainya. Dilansir dari CNBC, proyek properti pun banyak yang berjalan di tempat.

Perubahan, baik positif ataupun negatif, akan selalu ada. Meskipun barang yang kita jual adalah barang yang selalu dicari banyak orang, tetapi kita harus punya rencana untuk menghadapi perubahan. Rangkullah perubahan positif untuk menanggulangi perubahan negatif.

Misalnya, jika Anda adalah pemilik bisnis restoran, optimalkan layanan pesan antar. Jangan ragu untuk bekerja sama dengan transportasi online supaya bisnis Anda tetap hidup di masa pandemi dan masa-masa lain yang kurang bersahabat. Bulan ini, bisa jadi bisnis kita laris manis. Bulan depan, siapa yang tahu? Tren berubah, kondisi masyarakat berubah, dunia berubah.

Jangan Menutup Diri terhadap Berbagai Macam Kesempatan

Pernahkah Anda menonton film Happy Gilmore yang dibintangi oleh Adam Sandlers? Happy Gilmore digambarkan sebagai pemuda yang terobsesi untuk menjadi pemain hoki, tetapi selalu gagal meraih mimpinya sejak kecil dan malah terjebak di dalam dunia golf. Awalnya, Gilmore menolak tawaran takdir tersebut, tetapi perlahan ia menyadari bahwa keberuntungannya berada di dunia golf, bukannya hoki.

Meskipun tidak berhubungan dengan dunia bisnis, tetapi semangat dalam film tersebut cocok diterapkan oleh para pebisnis. Bisa jadi Anda ingin membuka bisnis kafe, tetapi bagaimana jika rezeki Anda ada di bisnis warteg?

Idealisme memang harus dimiliki oleh business owner, tetapi ada satu hal yang juga harus Anda pelajari : critical thinking. Anda harus mampu mengurai masalah apa yang ingin Anda selesaikan dalam bisnis dan tujuan apa yang sebenarnya ingin Anda raih.

Terbuka terhadap Cara-Cara Baru

Beberapa pelaku bisnis cenderung fanatik terhadap ide atau konsep tertentu. Misalnya, Anda lebih suka mengikuti bazaar untuk mempromosikan produk daripada menggunakan pemasaran digital.

Sistem bazaar tidak selalu berjalan mulus, contohnya di musim wabah seperti saat ini. Untuk menanggulangi pemasaran yang mandek, Anda bisa mencoba sistem digital marketing alias pemasaran di dunia maya. Orang-orang memang tidak beraktivitas di luar rumah, tetapi mereka tetap menggunakan Internet.

Bersahabat dengan Teknologi Adalah Cara Terbaik

Harus diakui bahwa teknologi banyak menyelamatkan kita, terutama dalam kondisi social distancing semacam ini. Teknologi mendekatkan kita pada rekan-rekan yang jauh, mempermudah koordinasi pekerjaan, memberikan informasi, bahkan mempermudah mendapatkan barang-barang kebutuhan.

Pebisnis yang berpotensi sukses mampu memanfaatkan sisi baik teknologi, kemudian menerapkannya dalam bisnis mereka. Contohnya, mempermudah pelanggan untuk memesan produk via situs atau aplikasi messenger.

Meningkatkan Kualitas Diri Itu Penting

Warren Buffett, investor tersukses di Amerika Serikat, pernah mengatakan bahwa salah satu investasi terbaik adalah pada diri sendiri. Investasi terbaik pada diri Anda bisa dimulai dengan banyak-banyak belajar tentang hal baru, terutama yang memiliki kaitan dengan bisnis Anda.

Saya sendiri merekomendasikan Anda untuk mengambil banyak pelatihan daring alias online ketika harus work from home. Kegiatan ini, selain mengurangi rasa bosan di rumah, juga sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berbisnis.

Kesulitan dan Kemudahan Dipengaruhi oleh Pola Pikir

Di musim wabah seperti saat ini, saya berusaha untuk menjaga pikiran dari hal-hal yang negatif. Kekuatan pikiran punya pengaruh besar terhadap kondisi Anda. Jika Anda berpikir bahwa tidak ada sedikit pun kesempatan bagi Anda untuk menghasilkan uang, Anda akan kesulitan mencari cara buat melakukannya. Anda sudah terjebak dalam pikiran negatif dan tidak mau berusaha keras.

Bagaimana jika Anda senantiasa optimistis? Semangat di dalam diri Anda akan tumbuh dan Anda akan selalu bisa menemukan cara untuk menjadi lebih baik daripada hari ini.

Menyiapkan Dana Cadangan Selalu Menjadi Pilihan Tepat

Ketika omzet meningkat, beberapa orang tidak menyadari bahwa hal tersebut bisa saja tidak berlangsung selamanya. Selama saya berbisnis, selalu ada hari yang cerah tetapi ada juga saatnya mendung. Kita harus selalu mempersiapkan diri pada hari-hari terburuk. Dalam bisnis, ada baiknya mempersiapkan dana cadangan jauh-jauh hari, terutama jika bisnis yang Anda jalankan berskala UMKM.

Dana cadangan bisa dipakai untuk menanggulangi kerugian, menggaji karyawan, atau bahkan membuat bisnis tidak pailit. Mempersiapkan diri tidak pernah membuat kita rugi.

Tidak Ada Tempat untuk Keraguan

Sebelum wabah Corona merebak, beberapa di antara kita sering merasa ragu untuk mengambil langkah bisnis tertentu. Manusia memang suka menunda, terutama jika tidak ada tekanan yang memaksa mereka untuk berubah. Namun, Corona datang dan ia seolah menjadi perundung yang membawa manusia ke titik terendah. Pada titik terendah ini, kita dipaksa untuk mengambil langkah terbaik agar tetap bertahan hidup.

Jika sebelumnya Anda merasa ragu untuk mengambil langkah efektif demi kemajuan bisnis, kini adalah saat yang tepat.

Menjadi business owner membutuhkan konsistensi dan kemauan untuk tidak berhenti belajar. Saya rasa, dalam krisis yang tidak terduga ini, Anda memiliki banyak waktu untuk memperbaiki diri dan mengambil setiap pelajaran bahkan dari hal-hal terburuk sekalipun.

Sumber:
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200406082431-4-149915/proyek-properti-mulai-mandek-pengembang-mulai-berjatuhan
https://internasional.kontan.co.id/news/warren-buffett-berinvestasilah-pada-dirimu-sendiri?page=all

Ada satu wejangan hidup yang menurut saya berlaku untuk semua orang, “Apa pun profesinya, konsistensi adalah kunci kesuksesan”. Umumnya, orang-orang yang memiliki konsistensi tinggi akan berusaha keras untuk mencapai tujuan, dan dalam prosesnya, mereka akan banyak mendapatkan pelajaran.

Konsistensi ini ibarat air yang terus menetes untuk melubangi sebuah batu. Awalnya, tidak mungkin air bisa menembus permukaan batu yang keras. Namun lama-kelamaan, lubang pun pun bisa terbentuk di batu tersebut.

Saya melihat bahwa mereka yang benar-benar sukses tidaklah mendapatkan kesuksesan tersebut dalam waktu singkat. Di balik kehidupan yang terlihat mudah dan penuh privilese, terdapat perjuangan berdarah-darah yang tidak diketahui orang lain. Kita tentu ingin berada pada posisi penuh privilese tersebut. Untuk mencapainya, mari pahami bagaimana konsistensi dapat mengubah hidup seseorang, berikut ini.

Konsisten, Bukan Sekadar Bekerja Keras

Ketika membicarakan konsistensi, beberapa dari kita mungkin membayangkan gambaran seseorang yang terus-menerus bekerja tanpa kenal lelah. Kerja keras memang merupakan bagian dari konsistensi, tetapi ia harus dilakukan secara terencana. Jika tidak, apa yang dilakukan akan sia-sia.

Saya akan memberikan sebuah contoh konsistensi yang akan membuahkan hasil. Misalnya, ketika Anda tertarik dengan dunia ilustrasi dan ingin sukses di bidang tersebut, Anda harus memahami langkah apa saja yang harus diambil untuk bisa bekerja secara profesional di bidang ilustrasi. Anda juga wajib untuk terus memperdalam kemampuan, baik melalui sekolah formal, kursus, ataupun secara otodidak.

Setelah itu, Anda juga wajib mempelajari langkah yang biasa diambil ilustrator profesional dalam karier. Misalnya, memulai pekerjaan di agensi, mengambil pekerjaan lepas di berbagai platform, dan sebagainya.

Saat meniti karier, wajib buat Anda untuk merencanakan apa yang ingin Anda capai. Apakah sekadar naik jabatan? Pendapatan? Ataukah membuat sebuah perubahan dengan kemampuan Anda?

Rencana membantu Anda untuk mengambil langkah tepat dalam menggapai mimpi. Tanpa adanya rencana yang baik, tentu karier sebagai ilustrator akan jalan di tempat. Pada satu titik, Anda akan merasa jenuh dengan apa yang dikerjakan. Buruknya, Anda bahkan bisa kehilangan ketertarikan atas bidang yang pernah disukai tersebut. Banyak orang yang terjebak dalam zona ini dan mereka harus bersusah payah untuk keluar dari sana.

Ada beberapa cara yang saya rekomendasikan untuk menjaga konsistensi dalam merencanakan mimpi. Simak satu per satu di sini:

1. Buat plan yang realistis

Dalam membuat rencana, sebaiknya bersikaplah secara realistis. Sah-sah saja bermimpi setinggi mungkin, tetapi jika Anda tidak tahu bagaimana cara meraihnya, mimpi itu hanya akan membuang-buang waktu.

Buatlah daftar mengenai rencana terkait karier atau bisnis Anda. Dengan daftar tersebut, Anda jadi tahu apa saja langkah yang patut diprioritaskan di masa depan sehingga Anda tidak perlu membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

2. Membuat daftar mengenai langkah-langkah yang akan diambil

Saya memiliki sebuah agensi dan saya ingin agensi saya menjadi salah satu agensi digital terbesar di Indonesia. Langkah-langkah yang bisa saya ambil antara lain mengoptimalkan pemasaran digital, terus mencari tahu pangsa pasar bisnis saya, merekrut orang-orang yang kompeten di bidang ini, dan sebagainya.

Dari beberapa langkah yang saya ambil, saya melakukan analisis mengenai langkah mana yang membawa pengaruh paling besar dan mana yang sebaiknya ditinggalkan karena tidak memberikan perubahan signifikan terhadap bisnis saya.

3. Berhenti menunda

Rencana hanya akan menjadi angan-angan jika tidak dieksekusi. Menunda pekerjaan memang menyenangkan, tetapi hanya akan memberi Anda beban di masa depan. Segera lakukan apa yang Anda rencanakan, kalau perlu buat tenggat yang harus Anda patuhi.

Jika Anda memulai perencanaan dengan tiga hal di atas, maka akan lebih mudah untuk menjalankan pekerjaan dan meraih tujuan.

4. Jangan mudah bosan

Kebanyakan orang menyerah di tengah jalan bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka jenuh. Orang-orang sukses bukan hanya mereka yang mampu menaklukkan rintangan dari luar, tetapi juga rintangan dari dalam diri.

Rasa jenuh adalah emosi sesaat, sebaiknya alihkan dengan melakukan inovasi positif terkait mimpi Anda. Alternatif lainnya adalah rehat sejenak. Ya, semua orang butuh istirahat untuk menyehatkan tubuh dan pikiran.

5. Minta saran dari orang yang dipercaya

Terkadang, kita tak mampu memandang diri kita sendiri secara subjektif. Maka dari itu, saya kerap kali meminta saran dari mereka yang benar-benar mengenal saya dengan baik dan mereka yang sudah ahli dalam bidang tertentu. Saran-saran yang positif akan membantu Anda untuk tetap menjaga konsistensi dalam meraih mimpi.

6. Terbuka terhadap kemungkinan baru

Terdapat perbedaan besar antara konsisten dengan tidak terbuka terhadap kesempatan baru. Orang yang tidak terbuka terhadap kesempatan baru enggan untuk belajar dan tidak mau mendengarkan saran orang lain. Ia hanya mau berada di jalurnya tanpa tahu apakah jalur yang ia ambil benar atau tidak.

Sementara itu, orang yang konsisten akan sangat setia dengan langkah yang diambil, tetapi ia akan terbuka dengan pilihan lain yang realistis. Contohnya, apabila Anda hobi menulis fiksi, Anda tidak menutup kemungkinan dari karier lain terkait dunia penulisan, seperti menjadi copywriter atau content-writer.

Buah dari Konsistensi

Usaha keras dan kesetiaan tidak akan pernah mengecewakan Anda. Jika suatu saat kegagalan datang, kita akan mendapatkan pelajaran berharga yang dapat meningkatkan kualitas diri. Hal tersebut tentu dapat menjadi modal untuk merangkak ke atas.

Sementara itu, jika Anda sukses, kesuksesan ini tidaklah berlangsung sementara saja. Pasalnya, Anda sudah menempa diri dengan sangat kuat dan Anda tak akan mudah jatuh. Tentu ini berbeda dengan kesuksesan yang didapatkan secara instan dan aji mumpung.

Konsistensi adalah kunci kesuksesan yang utama dan Anda tak akan menyesal melakukannya. Mulai sekarang, jaga konsistensi dari setiap hal yang Anda lakukan. Suatu saat, Anda akan memetik hasil konsistensi yang ditanam sejak sekarang. Tetaplah optimis!

Quick Links

© 2021 Tri Lastiko. All rights reserved.
phone-handsetmap-marker